Nama Kelompok 4EB10 :
1. Andini (20212798)
2. Merry Inriama (24212553)
3. Suhariani Habibah (27212182)
Case Analysis
The Betaseron Decision
This case is about the dilemma Betaseron had over their MS treating medicine that was under extremely high demand but they were not able to fulfill all demand for the first 2 years. Betaseron is proven to greatly improve the quality of life for people with MS and is therefore under high demand. But due to the low production rates and the fact that Betaseron was unprepared to manufactured and distribute the medicine, it was estimated that they would have enough of it for less than 1/5 of the potential client base. This created the dilemma of who would receive the medicine and who would have to wait, among many other problems.
Even though there are many issues with the distribution and manufacturing of Betaseron, this is not the major problem. There is one major problem that lead to all this chaos and rush and that is the fact of how the FDA decided to expedite the approval process for Betaseron. This took one year instead of the standard three. Betaseron was not expecting this, the therefore had to dramatically upscale production and start to distribute the medicine in a relatively short amount of time. This lead to many other problems, such as who would get the medicine and who would have to wait. If Betaseron would have had the additional 2 years they had anticipated to get the medicine into production and distribution.
Analysis :
Betaseron, Chiron Corporation, and Berlex Laboratories all did the best things they could under the possible circumstances. They were anticipating a 3 years FDA approval process, which would have allowed them the time necessary to put Betaseron in production and distribution. Betaseron was the first and only drug that was proven to have an effect on the frequency of exacerbations. Therefore, Chiron Corporation had an extreme amount of pressure from people with MS and organizations supporting the research of MS to get the medicine out on the market and helping people as soon as possible, even if it would mean having to choose only select patients. Betaseron was greatly improving the quality of life for about 12.000-20.000 people in its first year of production (by the end of 1993). And they estimated that in 1996 they would be able to provide it to all who requested the Betaseron. So even though they are not able to fulfill all demand in the first 2 years, they are helping people 2 years earlier then they would have been able to do if the FDA would have taken the customary 3 years to approve Betaseron. Overall, Betaseron did the best thing they could have done in the available circumstances.
welcome my blog , disini anda bisa melihat cerita cerita lucu , lirik lagu dah tips tips menarik ^-^
Rabu, 28 Oktober 2015
Kamis, 08 Oktober 2015
TUGAS 1 "PSAK"
1. Ada
berapa jumlah pernyataan PSAK hasil adopsi IFRS?
Jawab:
PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan (Revisi 2009)
PSAK 2 Laporan Arus Kas (Revisi 2009)
PSAK 3 Laporan Keuangan Interim (Revisi 2010)
PSAK 4 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri (Revisi 2009)
PSAK 5 Segmen Operasi (Revisi 2009)
PSAK 7 Pengungkapan Pihak-Pihak Berelasi (Revisi
2009)
PSAK 8 Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan
(Revisi 2010)
PSAK 10 Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing
(Revisi 2009)
PSAK 12 Ventura Bersama (Revisi 2009)
PSAK 13 Properti Investasi (Revisi 2011)
PSAK 14 Persediaan (Revisi 2008)
PSAK 15 Investasi pada Asosiasi (Revisi 2009)
PSAK 16 Aset Tetap (Revisi 2011)
PSAK 18 Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat
Purnakarya (Revisi 2010)
PSAK 19 Aset Tidak Berwujud (Revisi 2009)
PSAK 22 Kombinasi Bisnis (Revisi 2010)
PSAK 23 Pendapatan (Revisi 2009)
PSAK 24 Imbalan Kerja (Revisi 2010)
PSAK 25 Kebijakan Akuntansi, Estimasi, Kesalahan
(Revisi 2009)
PSAK 26 Biaya Pinjaman (Revisi 2011)
PSAK 28 Akuntansi Asuransi Kerugian (Revisi 2010)
PSAK 30 Sewa (Revisi 2011)
PSAK 31 Instrumen Keuangan: Pengungkapan (Revisi
2009)
PSAK 33 Akuntansi Pertambangan Umum (Revisi 2011)
PSAK 34 Kontrak Kontruksi (Revisi 2010)
PSAK 36 Akuntansi Asuransi Jiwa (Revisi 2010)
PSAK 38 Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali
(Revisi 2011)
PSAK 45 Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba (Revisi
2010)
PSAK 46 Pajak Penghasilan (Revisi 2010)
PSAK 48 Penurunan Nilai Aset (Revisi 2009)
PSAK 50 Instrumen Keuangan: Penyajian (Revisi 2010)
PSAK 53 Pembayaran Berbasis Saham (Revisi 2010)
PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
(Revisi 2011)
PSAK 56 Laba per Saham (Revisi 2010)
PSAK 57 Kewajiban Diestimasi, Kewajiban dan Aset
Kontinjensi (Revisi 2009)
PSAK 58 Aset Tidak Lancar
PSAK 60 Instrumen Keuangan: Pengungkapan
PSAK 61 Akuntansi Hibah Pemerintah dan Pengungkapan
Bantuan Pemerintah
PSAK 62 Kontrak Asuransi
PSAK 63 Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi
Hiperinflasi
PSAK 64 Eksplorasi dan Evaluasi Sumber Daya Mineral
PSAK 107 Akuntansi Ijarah
PSAK 108 Penyelesaian Utang Piutang Murabahah
PSAK 109 Akuntansi Zakat Infaq Sedekah
PSAK 110 Akuntansi Hawalah
PSAK 111 Akuntansi Asuransi Syariah
PSAK ETAP
2. Sebutkan
PSAK yang dihapus setelah mengadopsi IFRS ?
Jawab :
PSAK industri yang saat ini telah dihapus:
-PSAK 32 Akuntansi
Kehutanan.
- PSAK 35 Akuntansi
Pendapatan Jasa Telekomunikasi.
-PSAK 37 AkuntansiPenyelenggaraan
Jalan Tol.
- PSAK 31 (revisi 2000
Akuntansi Perbankan dan PSAK.
- 42 Akuntansi
Perusahaan Efek.
IFRSadalah standar yang disusun dengan
basistransaksi dan perlakukan khusus elemen laporan keuangan bukan
industri,sehingga semua standar yang terkait dengan industri dihapus. PSAK yang
tidak adarujukannya dalam IFRS juga dicabut diantaranya akuntansi waran, anjak
piutang,restrukturisasi utang piutang bermasalah. Standar ini dicabut karena
telah tercakupdalam pengaturan PSAK 50 dan 55 tentang Instrumen Keuangan. Standar lain yang telah
ada namun tidak sesuai dengan IFRS direvisi dandisesuaikan dengan pengaturan
dalam IFRS terbaru.
3.
Pilih salah satu PSAK yang mengadopsi IFRS! Ringkas dan beri komentar
?
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14
tentang Persediaan disetujul dalam Rapat Komite
Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 clan telah disahkan
oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994
Komentar : PSAK Nomor 14 menjelaskan biaya yang
harus diakui sebagai aktiva dan konversi selanjutnya sampai pendapatan yang
bersangkutan diakui. Pernyataan ini menyediakan pedoman praktis dalam penentuan
biaya dan pengakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunannya
menjadi nilai realisasi bersih . menyediakan juga pedoman rumus biaya yang
digunakan untuk membebankan biaya pada persediaan.
Sumber :
TUGAS 2 "ETIKA DAN ADAT ISTIADAT"
Adat kebiasaan suku jawa
1. Syukuran saat seorang wanita mulai
hamil .
Pada saat seorang wanita terlambat haidnya, diadakan upacara syukuran pada hari
weton si wanita. Weton adalah saat lahir seseorang, berdasar Kalender Jawa.
Tembung Weton berasal dari tembung metu atau keluar, maksudnya hari lahir.
Jika dalam Kalender Masehi dikenal hari-hari Senin sampai Minggu, maka
dalam Kalender Jawa, dikenal hari-hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Paing, Pon
, dan Wage . Orang yang lahir hari Jumat Kliwon, berarti weton nya adalah Jumat
Kliwon.
2. Syukuran pada bulan ke dua, ke
empat dan ke tujuh kehamilan
Syukuran bulan ke empat disebut ngupati , atau ngapati (dari kata papat, atau
empat) , dan syukuran bulan ke tujuh disebut mitoni (dari kata pitu atau
tujuh), tingkeban. Selain bersyukur pada Tuhan, upacara syukuran itu juga
dimaksudkan untuk mohon doa dan berbagi rasa bahagia pada saudara,
sahabat, dan tetangga. Bentuk rasa syukur, tergantung niat si empunya hajat.
Bisa cukup sederhana, dengan sekedar membagikan bubur abang-putih dan jajan
pasar pada kerabat dan tetangga; bisa juga dengan membagikan sega gudangan ,
bahkan mengundang kerabat dan tetangga, dan menjamunya dengan hidangan yang
pantas. Semua upacara,selalu diawali dan diakhiri dengan doa.
Dalam hadist dinyatakan, bahwa ruh manusia ditiupkan pada hari ke 120, atau
pada umur kehamilan empat bulan. Di beberapa tempat, tumbuh dan berkembang
tradisi baru, yaitu pengajian dan pembacaan doa pada umur kehamilan empat
bulan.
3. Syukuran tingkeban
Upacara ini, biasanya dilakukan hanya pada
kehamilan yang pertama. Urutan upacaranya adalah seperti berikut.
3.1. Siraman calon ibu.
Mula-mula disiapkan air yang di dalamnya
sudah diisi dengan kembang setaman . Calon ibu memakai kain batik yang
dililitkan (kemben ) pada tubuhnya..Dalam posisi duduk, calon ibu mula-mula
disirami oleh suaminya, lalu oleh orang tua dan sesepuh lainnya. Maksud upacara
ini adalah untuk mencuci semua kotoran, dan hal-hal negatif lainnya.
3.2.Tlisipan endog ayam .
Setelah siraman, calon ayah memasukkan
endog ayam (telur ayam) (kampung) di bagian dada dari kain yang dikenakan calon
ibu, lalu mengurutkannya ke bawah, sampai ke luar. Ini melambangkan permohonan,
agar bayi lahir dengan lancar dan selamat.
3.3. Santun busono
Santun berarti berganti, busono adalah
pakaian. Calon ibu secara bergantian memakai (melilitkan pada tubuh) 7 (tujuh)
kain batik, yang berbeda coraknya. Ini melambangkan, bahwa ibu calon bayi
sadar, bahwa dalam membesarkan dan mendidik anak nantinya, akan dijumpai
berbagai corak kehidupan. Corak batik yang dipakai urut, mulai dari yang
terbaik sampai terjelek, yaitu 1) sidoluhur, 2) sidomukti, 3) truntum, 4) wahyu
tumurun, 5) udan riris, 6) sido asih, 7) lasem.
Setiap memakai corak kain, si calon ibu
berlaku seperti peragawati di depan para tamu. Pada saat memakai sidomukti
sampai sido asih, para tamu mengatakan “Bagus, tapi tidak cocok”, atau “Mahal
tapi tidak serasi”, tetapi pada saat memaki corak yang paling sederhana, yaitu
lasem, para tamu mengatakan:” Sederhana, tapi cocok”, “Biasa-biasa, tapi karena
yang memakai cantik, ya serasi”. Ini melambangkan, doa agar si bayi nantinya
menjadi orang yang sederhana.
Angka 7 melambangkan 7 lubang tubuh (2 di
mata, 2 di telinga, 1 di mulut, 1 di dubur, dan 1 di alat kelamin), yang harus
selalu dijaga kesucian dan kebersihannya. Ada pengertian lain dari angka 7 ini
yang disebut keratabasa . Angka 7, dalam Basa Jawa disebut pitu , keratabasa
dari pitu-lungan (pertolongan).
3.4. Nyigar klapa gading
Selanjutnya, ibu dari si calon ibu
menyerahkan kepada si calon ibu, dua butir kelapa gading, yang masing-masing
telah digambari Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih, atau Arjuna dan Sembodro. Gambar
tokoh wayang melambangkan doa, agar nantinya si bayi jika laki-laki akan
setampan Dewa Kamajaya atau Arjuna, dan jika wanita secantik Dewi Ratih atau
Sembodro. Kedua dewa dan dewi ni merupakan lambang kasih sayang sejati. Oleh si
calon ibu, kedua butir kelapa diserahkan pada suaminya (calon bapak), yang akan
membelah kedua butir kelapa gading menjadi dua bagian dengan bendo . Ini
melambangkan, bahwa jenis kelamin apa pun, nantinya, terserah pada kekuasaan
Allah.
3.5. Dodol dawet lan rujak
Pada awal upacara, para tamu diberi duwit
kreweng . Kreweng adalah genting yang dipecah. Sekarang, ada duwit kreweng yang
dibuat khusus yang ornamennya, yang dijual di pasar-pasar tradisional.
Beberapa perias penganten juga menyediakan uang kreweng ini. Kemudian,
para tamu membeli dawet dan rujak , yang melayani (menjual) adalah si calon ibu
dan calon ayah. Si calon ibu melayani pembelinya, sedang si ayah menerima uang
untuk disimpan. Jual beli dawet dengan duwit kreweng , melambangkan doa agar
lancarlah rejeki yang akan diterima, dan niat calon ibu dan ayah untuk
bersama-sama menyimpan kekayaan..
3.6. Kembul bujana
Kembul adalah bersama-sama, sedang bujana
adalah makan, maksudnya makan bersama. Lazimnya disediakan nasi tumpeng. Ini
merupakan acara akhir dari tingkeban .
4. Syukuran saat bayi lahir
Dalam tradisi Islam, pada setiap bayi yang
lahir, ayahnya membisikkan adzan di telinga kanan bayi, dan iqomat di telinga
kirinya. Jadi, suara yang pertama kali didengar adalah suara illahiah.
Setelah bayi lahir, ari-ari
(plasenta) dicuci bersih, dan diamati dengan seksama untuk memeriksa, mungkin
ada bagian ari-ari yang tertinggal di rahim (robek). Setelah itu, ari-ari dibungkus
dengan kain putih, lalu dimasukkan ke dalam kendil (periuk). Kendil diisi juga
uba rampe , yaitu: kembang setaman , minyak wangi, kunyit, garam, jarum jahit,
benang, kemiri, ikan asin, sirih yang digulung, dan alat tulis (pensil, buku
tulis). Lalu kendil ditutup, kemudian ditanam, biasanya di depan rumah.
Ada juga yang menggantung kendil itu. Setiap malam, selama 40 hari, di atas
kendil itu dinyalakan lampu minyak tanah. Sebelum dan sesudah kendil itu
ditanam, ayah si bayi memanjatkan doa.
5. Syukuran sepasaran, selapanan, dan
puputan
Syukuran sepasaran dan selapanan
dilaksanakan saat bayi berumur 5 dan 35 hari, syukuran puputan dilaksanakan
pada hari setelah tali pusar bayi lepas (putus).
Pada saat bayi puput , orang tuanya
memberi nama pada anaknya. Mestinya dipilih nama yang indah dan mengandung doa.
Biasanya, tali pusar yang putus itu dikeringkan, dibungkus kain putih, lalu
disimpan.
Di beberapa tempat, orang tua bayi
mengirimkan berkatan , yaitu makanan (nasi dan lauk pauk) di dalam besek
(sekarang doos) pada kerabat dan tetangga, disertai secarik kertas bertuliskan
nama anaknya dan permohonan doa
Dalam Islam disyariatkan pada hari ke
tujuh dilakukan potong rambut bayi, sekaligus pemberian nama. Ada juga orang
tua yang meng-aqiqahkan anaknya pada saat masih bayi.
6. Syukuran tedak siten
Tedak berarti turun, dan siten berasal
dari kata siti , yang berarti tanah. Dalam tradisi Jawa, saat seseorang
menginjakkan kakinya pada bumi, Sang Ibu Pertiwi, untuk pertama kalinya,
amatlah penting.
Upacara ini dilakukan pada saat bayi
berumur pitung lapan , atau 7 lapan, atau 7 X 35 hari, dijatuhkan pada hari
weton si bayi; jika bayi lahir pada Senin Kliwon , maka tedak sitennya
dilaksanakan pada Senin Kliwon juga.
Uba rampe yang disiapkan adalah:
1. Jadah (ketan sudah dimasak, lalu
ditumbuk), 7 warna, yaitu: hitam, merah, putih, kuning, biru, hijau, dan ungu.
Setiap warna, ditempatkan dalam piring kecil, lalu ditempatkan membentuk garis
lurus menuju kurungan ayam.
2. Tangga yang dibuat dari tebu
wulung (kulitnya berwarna wulung , ungu), dengan 9 anak tangga; tangga ini
disandarkan pada kurungan ayam. Dipilih angka 9, karena merupakan angka
maksimum. Tebu wulung merupakan singkatan ‘ante ping kalbu wu juding lelung
an’.
3. Kurungan ayam, yang dihias
secukupnya, di dalamnya berisi barang kebutuhan sehari-hari, misalnya alat
tulis, uang, mainan anak, dan sebagainya
4. Kembang setaman , dimasukkan ke
dalam bokor yang berisi air.
5. Beras kuning yang dicampur uang
receh (koin)
6. Tumpeng, bubur abang putih , dan
jajan pasar
Urutan upacara adalah seperti berikut.
Dengan dituntun ibunya (Jawa dititah atau
ditetah ), si bayi menginjakkan kaki pada jadah aneka warna, menuju tangga tebu
wulung , langsung menaiki tangga itu. Upacara menginjak jadah aneka warna ini
melambangkan, bahwa si ibu mendidik anaknya mengarungi samudera kehidupan yang
beraneka warna; si ibu juga membimbing anaknya menaiki tangga tebu, agar
anaknya mampu meningkatkan harkat dan martabatnya..
Kurungan ayam dibuka, si bayi dimasukkan
ke dalamnya, lalu kurungan ditutup lagi. Biarkan si bayi mengambil
barang-barang atau permainan yang ada di dalamnya. Benda apa yang diambil si
bayi, dianggap apa yang menjadi cita-citanya. Jika si bayi mengambil uang,
dianggap ia akan bekerja di bank, jika mengambil alat tulis, dianggap ia akan
menjadi cerdik pandai.
Setelah itu,bayi dimandikan atau cuci muka
dengan air kembang setaman .
Beras kuning ditaburkan, di sekitar
kurungan. Para tamu boleh merebut atau mengambil uang recehnya. Ini
melambangkan, semoga setelah dewasa, si bayi mempunyai sifat dermawan, suka
memberi.
Terakhir adalah kembul bujono.
Pada syukuran-syukuran itu, lazimnya
disajikan nasi tumpeng, bubur merah putih, dan jajan pasar. Setelah doa,
tumpeng dimakan bersama. Ada juga yang mengirimkan nasi gudangan ke tetangga.
7. Khitanan
Khitanan dapat dilakukan oleh juru khitan,
atau dukun sunat sekarang dilakukan oleh petugas medis (dokter), dan paramedis
(mantri). Di kota-kota, dijumpai ‘khitan center’. Khitanan dapat dilakukan di
rumah, di rumah sakit, klinik, atau khitan center. Bahkan, ada juga khitanan
masal.
Ada berbagai variasi upacara khitan; ada
yang sekedar ke klinik, lalu pulang, selesai. Ada juga yang lebih rumit;
anaknya memakai pakaian kejawen (dari blangkon sampai nyampingan), ada acara
sungkeman, dan sebagainya. Kiranya, urutan upacara dan ramainya upacara
khitanan, tergantung pada orang tua si anak.
8. Pernikahan
a.Melamar
Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka
biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan
keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu
sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan. Setelah ditentukan hari
kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar
membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud.
Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang
mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam)
potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam)
selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan
panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak
dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan
barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup. Orang yang pertama kali
mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah,
sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.
b.Serah-Serahan
Setelah dicapai kata sepakat oleh kedua belah pihak orang tua tentang
perjodohan putra-putrinya, maka dilakukanlah 'serah-serahan' atau disebut juga
'pasoj tukon'. Dalam kesempatan ini pihak keluarga calon mempelai putra
menyerahkan barang-barang tertntu kepada calon mempelai putri sebagai
'peningset', artinya tanda pengikat. Umumnya berupa pakaian lengkap, sejumlah
uang, dan adakalanya disertai cincin emas buat keperluan 'tukar cincin'.
c.Pingitan
Saat-saat menjelang perkawinan, bagi calon
mempelai putri dilakukan 'pingitan' atau 'sengkeran' selama lima hari, yang ada
pada perkembangan selanjutnya hanya cukup tiga hari saja. Selama itu calon
mempelai putri dilarang keluar rumah dan tidak boleh bertemu dengan calon
mempelai putra. Seluruh tubuh pengantin putri dilulur dengan ramu-ramuan,
dan dianjurkan pula berpuasa. Tujuannya agar pada saat jadi pengantin nanti,
mempelai putri tampil cantik sehingga membuat pangling orang yang
menyaksikannya.
d.Pasang Tarup
Upacara pasang 'tarup' diawalkan dengan pemasangan 'bleketepe' (anyaman daun
kelapa) yang dilakukan oleh orangtua calon mempelai putri, yang ditandai pula
dengan pengadaan sesajen. Tarup adalah bangunan darurat yang dipakai
selama upacara berlangsung. Pemasangannya memiliki persyaratan khusus yang
mengandung makna religius, agar rangkaian upacara berlangsung dengan selamat
tanpa adanya hambatan. Hiasan tarup, terdiri dari daun-daunan dan buah-buahan
yang disebut 'tetuwuhan' yang memiliki nilai-nilai simbolik.
e.Siraman
Makna upacara ini, secara simbolis merupakan persiapan dan pembersihan diri
lahir batin kedua calon mempelai yang dilakukan dirumah masing-masing. Juga
merupakan media permohonan doa restu dari para pinisepuh. Peralatan yang
dibutuhkan, kembang setaman, gayung, air yang diambil dari 7 sumur, kendi dan
bokor. Orangtua calon mempelai putri mengambil air dari 7 sumur, lalu
dituangkan ke wadah kembang setaman. Orangtua calon mempelai putri mengambil
air 7 gayung untuk diserahkan kepada panitia yang akan mengantarnya ke kediaman
calon mempelai putra. Upacara ini dimulai dengan sungkeman kepada orangtua
calon pengantin serta para pini sepuh. Siraman dilakukan pertama kali oleh
orangtua calon pengantin, dilanjutkan oleh para pinih sepuh, dan terakhir oleh
ibu calon mempelai mempelai putri, menggunakan kendi yang kenudian dipecahkan
ke lantai sembari mengucapkan, "Saiki wis pecah pamore"
("Sekarang sudah pecah pamornya").
f. Paes/ Ngerik
Setelah siraman, dilakukan upacara ini, yakni sebagai lambang upaya memperindah
diri secara lahir dan batin. 'Paes' (Rias)nya baru pada tahap 'ngalub-alubi'
(pendahuluan), untuk memudahkan paes selengkapnya pada saat akan dilaksanakan
temu. Ini dilakukan dikamar calon mempelai putri, ditunggui oleh para ibu pini
sepuh. Sembari menyaksikan paes, para ibu memberikan restu serta memanjatkan
do'a agar dalam upacara pernikahan nanti berjalan lancar dan khidmat. Dan
semoga kedua mempelai nanti saat berkeluarga dan menjalani kehidupan dapat
rukun 'mimi lan mintuno', dilimpahi keturunan dan rezeki.
g. Dodol Dawet
Prosesi ini melambangkan agar dalam upacara pernikahan yang akan
dilangsungkan, diknjungi para tamu yang melimpah bagai cendol dawet yang laris
terjual. dalam upacara ini, ibu calon mempelai putri bertindak sebagai penjual
dawet, didampingi dan dipayungi oleh bapak calon mempelai putri, sambil
mengucapkan : "Laris...laris". 'Jual dawet' ini dilakukan dihalaman
rumah. Keluarga. kerabat adalah pembeli dengan pembayaran 'kreweng' (pecahan
genteng)
Selanjutnya adalah 'potong tumpeng' dan
'dulangan'. Maknanya, 'ndulang' (menyuapi) untuk yang terakhir kali bagi putri
yang akan menikah. Dianjurkan dengan melepas 'ayam dara' diperempatan jalan
oleh petugas, serta mengikat 'ayam lancur' dikaki kursi mempelai putri.
Ini diartikan sebagai simbol melepas sang putri yang akan mengarungi bahtera
perkawinan.
Upacara berikutnya, 'menanam rikmo' mempelai putri dihalaman depan dan 'pasang
tuwuhan' (daun-daunan dan buah-buahan tertentu). Maknanya adalah 'mendem
sesuker', agar kedua mempelai dijatuhkan dari kendala yang menghadang dan dapat
meraih kebahagiaan.
h. Midodareni
Ini adalah malam terakhir bagi kedua calon mempelai sebagai bujang dan dara
sebelum melangsungkan pernikahan ke esokan harinya. Ada dua tahap upacara di
kediaman calon mempelai putri. Tahap pertama, upacara 'nyantrik',
untuk meyakinkan bahwa calon mempelai putra akan hadir pada upacara
pernikahan yang waktunya sudah ditetapkan. Kedatangan calon mempelai putra
diantar oleh wakil orangtua, para sepuh, keluarga serta kerabat untuk menghadap
calon mertua.
Tahap kedua, memastikan bahwa keluarga
calon mempelai putri sudah siap melaksanakan prosesi pernikahan dan upacara
'panggih' pada esok harinya. Pada malam tersebut, calon mempelai putri sudah
dirias sebagaimana layaknya. Setelah menerima doa restu dari para hadirin,
calon mempelai putri diantar kembali masuk ke dalam kamar pengantin,
beristirahat buat persiapan upacara esok hari. Sementara para pni sepuh,
keluarga dan kerabat bisa melakukan 'lek-lekan' atau 'tuguran', dimaksudkan
untuk mendapat rahmat Tuhan agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar dan
selamat.
i. Pernikahan
Pernikahan, merupakan upacara puncak yang dilakukan menurut keyakinan agama si
calon mempelai. Bagi pemeluk Islam, pernikahan bisa dilangsungkan di masjid
atau di kediaman calon mempelai putri. Bagi pemeluk Kristen dan Katolik,
pernikahan bisa dilangsungkan di gereja.
Ketika pernikahan berlangsung, mempelai
putra tidak diperkenankan memakai keris. Setelah upacara pernikahan selesai,
barulah dilangsungkan upacara adat, yakni upacara 'panggih' atau 'temu'.
j. Panggih (Temu)
Sudah menjadi tradisi, prosesi ini berurutan secara tetap, tapi dimungkinkan
hanya dengan penambahan variasi sesuai kekhasan daerah di Jawa Tengah. Diawali
dengan kedatangan rombongan mempelai putra yang membawa 'sanggan', berisi
'gedang ayu suruh ayu', melambangkan keinginan untuk selamat atau 'sedya
rahayu'. sanggan tersebut diserahkan kepada ibu mertua sebagai penebus.
Upacara dilanjutkan dengan penukaran
'kembang mayang'. Konon, segala peristiwa yang menyangkut suatu formalitas
peresmian ditengah masyarakat, perlu kesaksian. Fungsi kembang mayang, konon
sebagai saksi dan sebagai penjaga serta penangkal (tolak bala). Setelah
berlangsungnya upacara, kembang mayang tersebut ditaruh di perempatan jalan,
yang bermakna bahwa setiap orang yang melewati jalan itu, menjadi tahu
bahwa di daerah itu baru saja berlangsung upacara perkawinan. 'Panggih' atau
'temu' adalah dipertemukannya mempelai putri dan mempelai putra, yang
berlangsung sebagai berikut :
1.Balangan gantal/ Sirih
Mempelai putri dan mempelai putra
dibimbing menuju 'titik panggih'. Pada jarak lebih kurang lima langkah,
masing-masing mempelai saling melontarkan sirih atau gantal yang telah
disiapkan.Arah lemparan mempelai putra diarahkan ke dada mempelai putri,
sedangkan mempelai putri mengarahkannya ke paha mempelai putra. Ini sebagai
lambang cinta kasih suami terhadap istrinya, dan si istri pun menunjukan
baktinya kepada sang suami.
2.Wijik
Mempelai putra menginjak telur ayam hingga
pecah. Lalu mempelai putri membasuh kaki mempelai putra dengan air kembang
setaman, yang kemudian dikeringkan dengan handuk. Prosesi ini malambangkan
kesetiaan istri kepada suami. Yakni, istri selalu berbakti dengan sengan hati
dan bisa memaafkan segala hal yang kurang baik yang dilakukan suami. Setelah
wijik dilanjutkan dengan 'pageran', maknanya agar suami bisa betah di rumah.
Lalu diteruskan dengan sembah sungkem mempelai putri kepada mempelai putra.
3.Pupuk
Ibu mempelai putri mengusap ubun-ubun
mempelai putra sebanyak tiga kali dengan air kembang setaman. Ini sebagai
lambang penerimaan secara ikhlas terhadap menantunya sebagai suami dari
putrinya.
4.Sinduran/ Binayang
Prosesi ini menyampirkan kain sindur yang
berwarna merah ke pundak kedua mempelai (memperlai putra di sebelah kanan) oleh
bapak dan ibu mempelai putri. Saat berjalan perlaham-lahan menuju pelaminan
dengan iringan gending, Paling depan di awali bapak mempelai putri mengiringi
dari belakang dengan memegangi kedua ujung sindur. Prosesi ini menggambarkan
betapa kedua mempelai telah diterima keluarga besar secara utuh, penuh kasih
sayang tanpa ada perbedaan anatara anak kandung dan menantu.
5.Bobot Timbang
Kedua mempelai duduk dipangkuan bapak
mempelai putri. Mempelai putri berada dipaha sebelah kiri, mempelai putra
dipaha sebelah kanan. Upacara ini disertai dialog antara ibu dan bapak mempelai
putri. "Abot endi bapakne?" ("Berat yang mana, Pak) kata sang
ibu. "Podo, podo abote," ("Sama beratnya") sahut sang
bapak. Makna dari upacara ini adalah kasih sayang orangtua terhadap anak dan
menantu sama besar dan beratnya.
6.Guno Koyo - Kacar-kucur
Pemberian 'guno koyo' atau 'kacar-kucur'
ini melambangkan pemberian nafkah yang pertama kali dari suami kepada istri.
Yakni berupa : kacang tolo merah, keledai hitam, beras putih, beras kuning dan
kembang telon ditaruh didalam 'klasa bongko' oleh mempelai putra yang
dituangkan ke pangkuan mempelai putri. Di pangkuan mempelai putri sudah
disiapkan serbet atau sapu tangan yang besar. Lalu guno koyo dan kacar-kucur
dibungkus oleh mempelai putri dan disimpan.
9.Mati/Wafat
Demikian, sepasang pengantin itu akan mempunyai anak, menjadi dewasa, kemudian
mempunyai cucu dan meninggal dunia. Yang menarik tapi mengundang kontraversi,
adalah saat manusia mati. Sebab bagi orang Jawa yang masih tebal kejawaannya,
orang meninggal selalu didandani berpakaian lengkap dengan kerisnya (ini sulit
diterima bagi orang yang mendalam keislamannya), juga bandosa (alat pemikul
mayat dari kayu) yang digunakan secara permanen, lalu terbela (peti mayat yang
dikubur bersama-sama dengan mayatnya).
Sebelum mayat diberangkatkan ke alat pengangkut (mobil misalnya), terlebih
dahulu dilakukan brobosan (jalan sambil jongkok melewati bawah mayat) dari
keluarga tertua sampai dengan termuda. Sedangkan meskipun slametan orang mati,
mulai geblak (waktu matinya), pendak siji (setahun pertama), pendak loro (tahun
kedua) sampai dengan nyewu (seribu hari/3 tahun) macamnya sama saja, yaitu
sego-asahan dan segowuduk, tapi saat nyewu biasanya ditambah dengan memotong
kambing untuk disate dan gule. Nyewu dianggap slametan terakhir dengan
nyawa/roh seseorang yang wafat sejauh-jauhnya dan menurut kepercayaan, nyawa
itu hanya akan datang menjenguk keluarga pada setiap malam takbiran, dan rumah
dibersihkan agar nyawa nenek moyang atau orang tuanya yang telah mendahului ke
alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keturunannya bahagia dan teratur
rapi. Itulah, mengapa orang Jawa begitu giat memperbaiki dan membersihkan rumah
menjelang hari Idul fitri yang dalam bahasa Jawanya Bakdan atau Lebaran dari
kata pokok bubar yang berarti selesai berpuasanya.
10. Dalam Proses Pertanian
Banyuwangi adalah salah satu kabupaten
yang ada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Di sana ada sebuah etnik yang
bernama Using. Di kalangan mereka, khususnya yang berdiam di Dusun Krajan, Desa
Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, ada sebuah upacara tradisional yang sangat
erat kaitannya dengan bidang pertanian yang disebut sebagai “Kebo-keboan”.
Maksud diadakannya upacara itu adalah untuk meminta kesuburan tanah, panen
melimpah, serta terhindar dari malapetaka baik yang akan menimpa tanaman maupun
manusia yang mengerjakannya.
Upacara adat kebo-keboan mempunyai kedudukan yang penting bagi kehidupan
masyarakat Using Desa Alasmalang. Upacara adat kebo-keboan di Desa Alasmalang
sudah mengalami komodifikasi. Upacara adat kebo-keboan dalam pelaksanaannya
terdapat tambahan kesenian tradisional Banyuwangi yang lainnya. Kesenian
tersebut antara lain; barong ider bumi, kuntulan, damarulan/jinggoan, tari
jejer gandrung, angklung dan reog. Unsur-unsur upacara dalam upacara adat
kebo-keboan adalah: berdoa, bersaji, makan bersama makanan yang telah disucikan
dengan doa, pawai ider bumi. Pelaksanaan upacara adat kebo-keboan terbagi dalam
tiga tahap yaitu tahap pra acara atau persiapan, acara inti, dan tahap akhir
atau penutup.
Ritual kebo-keboan digelar setahun sekali
pada bulan Muharam atau Suro (penanggalan Jawa). Bulan ini diyakini memiliki
kekuatan magis. Konon, ritual ini muncul sejak abad ke-18. Di Banyuwangi,
kebo-keboan dilestarikan di dua tempat yakni di Desa Alasmalang, Kecamatan
Singojuruh, dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Munculnya ritual kebo-keboan
di Alasmalang berawal terjadinya musibah pagebluk. Kala itu, seluruh warga
diserang penyakit. Hama juga menyerang tanaman. Banyak warga kelaparan dan mati
akibat penyakit misterius. Dalam kondisi genting itu, sesepuh desa yang bernama
Mbah Karti melakukan meditasi di bukit. Selama meditasi, tokoh yang disegani
ini mendapatkan wangsit. Isinya, warga disuruh menggelar ritual kebo-keboan dan
mengagungkan Dewi Sri atau yang dipercainya sebagai simbol kemakmuran.
Keajaiban muncul ketika warga menggelar ritual kebo-keboan. Warga yang
sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu,
ritual kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak
melaksanakannya.
Upacara kebo-kebon di Dusun Krajan
dilaksanakan satu kali dalam satu tahun yang jatuh pada hari Minggu antara
tanggal 1 sampai 10 Sura (tanpa melihat hari pasaran). Dipilihnya hari minggu
sebagai hari penyelenggaraan dengan pertimbangan bahwa pada hari tersebut
masyarakat sedang tidak bekerja (libur), sehingga dapat mengikuti jalannya
upacara. Sedangkan, dipilihnya bulan Sura dengan pertimbangan bahwa Sura,
menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, adalah bulan yang keramat. Satu
minggu menjelang waktu upacara kebo-keboan tiba, warga masyarakat yang berada
di Dusun Krajan mengadakan kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan
rumah dan dusunnya. Selanjutnya, satu hari menjelang pelaksanaan upacara, para
ibu bersama-sama mempersiapkan sesajen yang terdiri atas: tumpeng, peras, air
kendi, kinang ayu, aneka jenang, inkung ayam dan lain sebagainya. Selain itu,
dipersiapkan pula berbagai perlengkapan upacara seperti para bungkil, singkal,
pacul, pera, pitung tawar, beras, pisang, kelapa dan bibit tanaman padi.
Seluruh sesajen tersebut selain untuk acara selamatan, nantinya juga akan
ditempatkan di setiap perempatan jalan yang ada di Dusun Krajan.
Pada malam harinya para pemuda menyiapkan berbagai macam hasil tanaman palawija
seperti pisang, tebu, ketela pohon, jagung, pala gumantung, pala kependhem,
pala kesimpar. Tanaman tersebut kemudian ditanam kembali di sepanjang jalan
Dusun Krajan. Selain itu, mereka mempersiapkan pula bendungan yang nantinya
akan digunakan untuk mengairi tanaman palawija yang ditanam. Pagi harinya,
sekitar pukul 08.00, diadakan upacara di Petaunan yang dihadiri oleh panitia
upacara, sesepuh dusun, modin, dan beberapa warga masyarakat Krajan.
Pelaksanaan upacara di tempat ini berlangsung cukup sederhana, yaitu hanya
berupa kata sambutan dari pihak panitia upacara, kemudian dilanjutkan dengan
doa yang dipimpin oleh modin dan diakhiri dengan makan bersama.
Selanjutnya, para peserta upacara yang
terdiri dari para sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun, dua pasang
kebo-keboan (setiap kebo-keboan berjumlah dua orang), para pembawa sesajen,
pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga Dusun Krajan akan melakukan
pawai ider bumi mengeliling Dusun Krajan. Pawai ini dimulai di Petaunan
kemudian menuju ke bendungan air yang berada di ujung jalan Dusun Krajan. Sesampainya
di bendungan, jagatirta (petugas pengatur air) akan segera membuka bendungan
sehingga air mengalir ke sepanjang jalan dusun yang sebelumnya telah ditanami
tanaman palawija oleh para pemuda. Sementara, para peserta upacara segera
menuju ke areal persawahan milik warga Dusun Krajan. Di persawahan inilah
kebo-keboan tersebut memulai memperlihatkan perilakunya yang mirip seperti
seekor kerbau yang sedang membajak atau berkubang di sawah. Pada saat
kebo-keboan sedang berkubang, sebagian peserta upacara segera turun ke sawah
untuk menanam benih padi.
Setelah benih tertanam, para peserta yang lain segera berebut untuk mengambil
benih padi yang baru ditanam tersebut. Benih-benih yang baru ditanam itu
dipercaya oleh warga masyarakat Dusun Krajan dapat dijadikan sebagai penolak
bala, mendatangkan keberuntungan serta membawa berkah. Pada saat para peserta
memperebutkan benih tersebut, para kebo-keboan yang sebelumnya telah dimantrai
oleh pawang sehingga menjadi trance, akan segera mengejar para pengambil benih
yang dianggap sebagai pengganggu. Namun, para kebo-keboan itu tidak sampai
mencelakai para pengambil benih karena sang pawang selalu mengawasi setiap
geraknya. Setelah dirasa cukup, maka sang pawang akan menyadarkan kebo-keboan
dengan cara mengusapkan pitung tawar pada bagian kepalanya. Setelah itu, mereka
kembali lagi ke Petaunan.
Sesampainya di Petaunan, peserta upacara kembali ke rumah masing-masing sambil
membawa padi yang tadi mereka ambil di sawah untuk dijadikan sebagai penolak
bala dan juga sekaligus pembawa berkah. Malam harinya, mereka kembali lagi ke
Petaunan untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Sri Mulih yang
mengisahkan tentang Dewi Sri. Lakon tersebut dipentaskan dengan harapan agar
warga Dusun Krajan mendapatkan hasil panen padi yang melimpah. Dan, dengan
dipentaskannya kesenian wayang kulit di Petaunan itu, maka berakhirlah seluruh
rentetan dalam upacara kebo-keboan di Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh
Kabupaten Banyuwangi.
Nama : 1. Linda Puspitasari (24212221)
2. Suhariani Habibah (27212182)
Langganan:
Komentar (Atom)