Rerangka konseptual
dipandang sebagai teori akuntansi yang terstruktur (Belkaouli, 1993). Hal ini
disebabkan struktur rerangka konseptual sama dengan struktur teori akuntansi
yang di dasarkan pada proses penalaran logis (logical normative). Atas dasar penalaran
ini, teori merupakan proses pemikiran menurut rerangka konseptual tertentu
untuk menjelaskan apa yang harus di lakukan apabila ada fakta atau fenomena
baru.
FASB (1978) mendefinisikan rerangka konseptual
sebagai suatu format yang saling berkait sebagai berikut : “suatu format yang
koheren tentang tujuan (objectives) dan konsep dasar yang saling berkaitan,
yang di harapkan dapat menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberi
pedoman tentang jenis, fungsi, serta keterbatasan akuntansi keuangan dan
pelaporan keuangan”.
Ada beberapa pihak yang memandang rerangka
konseptual sebagai “ konsistensi” (Undang-Undang Dasar), yang merupakan
landasan dalam proses penentuan standar akuntansi. Tujuannya adalah untuk
memberi pedoman bagi badan yang berwenang dalam memecahkan masalah yang muncul
selama proses penentuan standar. Hal ini di lakukan dengan cara mempersempit
permasalahan sehingga dapat di tentukan apakah standar tertentu sesuai dengan
rerangka konseptual.
Perumusan
Rerangka Konseptual
Rerangka konseptual dimulai dari penentuan tujuan,
yang merupakan landasan untuk menyusun elemen yang lain seperti karakteristik
kualitatif dari informasi, elemen laporan keuangan dan pengakuan/pengukuran.
Proses perumusan rerangka konseptual pada dasarnya merupakan proses evolusi
yang dihasilkan dari pekerjaan/proyek sebelumnya seperti A Statement of Basic
Accounting Theory (ASOBAT) tahun 1966 oleh AAA, Basic Concept and Accounting
Principles Underlying Financial Statement of Business Enterprises (APB Opinion
No. 4) tahun 1970 oleh APB, Objectives of Financial Statement (Trueblood
Committee Report) tahun1973 oleh AICPA, Statement of Accounting Theory and
Theory Acceptance (SATTA) tahun 1977 oleh AAA, dan Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) no.
1,2,3,4,5,6 tahun 1978, 1980, 1980, 1984, dan 1985 oleh FASB.
Selanjutnya hanya ditekankan pada rerangka
konseptual FASB. Adanya kebutuhan akan rerangka konseptual mendorong FASB
mengeluarkan Discussion Memorandum berjudul “ Conceptual Rerangka for Financial
Accounting and Reporting : Elements of Financial Statements and Their
Measurement “ pada tahun 1976. Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya pada
perioda 1978-1985 dihasilkan enam komponen rerangka konseptual dan diberi nama
Statement of Financial Accounting
Concept (SFAC) sebagai berikut :
a). SFAC No. 1 : Objectives of Financial Reporting by Business Enterprise
tahun 1978. Isi : tujuan pelaporan keuangan.
b). SFAC No. 2 : Qualitative Charateristics of
Accounting Information tahun 1980. Isi : kualitas informasi yang harus dipenuhi
dalam pelaporan keuangan.
c). SFAC No. 3 : Elemennts of Financial Statements of Business Enterprises
tahun 1980. Isi : tujuan yang akan dicapai dalam pelaporan keuangan organisasi
nir laba.
d). SFAC No. 4 : Objectives of Financial Reporting by Nonbusiness
Organizations tahun 1980. Isi : kriteria pengakuan dan atribut pengukuran
elemen laporan keuangan.
e). SFAC No. 5 : Recognition dan Measurement in
Financial Statement of Business Enterprises tahun 1984. Isi : Definisi dan
karakteristik elemen laporan keuangan.
f). SFAC No. 6 : Elements of Financial Statements: A
Replacement of FASB Concepts Statement
No. 3 tahun 1985. Isi : mengganti SFAC No. 3 dan berlaku juga bagi organisasi
nir laba.
TINGKAT
PERTAMA: TUJUAN DASAR
Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial
reporting) adalah untuk menyediakan informasi:
1) yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman
memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi
serta kredit;
2) untuk membantu investor yang ada dan potensial,
kreditor yang ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah,
waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;
3) tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber
daya tersebut, dan perubahan di dalamnya.
Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak
berfokus pada informasi yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam
membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan
kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari
pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan
berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk
menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang
menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan
keputusan (decision usefulness).
Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan
keuangan, profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan
bertujuan-umum(general-purpose financial statement), yaitu menyediakan
informasi paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok
pemakai.
TINGKAT
KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL
Karakteristik
Kualitatif Informasi Akuntansi
Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision
usefulness), informasi akuntansi harus memiliki dua kualitas yaitu kualitas
primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat beberapa kendala untuk
mencapai dua kualitas tersebut.
Kualitas
Primer
Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability)
harus melekat pada informasi akuntansi.
·
Relevansi
Agar relevan
informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan.
Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat
dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut
dikatakan tidak relevan. Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan
balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi
harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive
value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa
yang akan datang.Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi
tepat waktu (timeliness). Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum
informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.
·
Keandalan
Informasi
dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan secara tepat serta
bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi
individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk
mengevaluasi isi faktual dari informasi.
Realibilitas sangat diperlukan oleh
individu-individu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi
isi faktual dari informasi.
Ø Daya
Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan
menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
Ø Ketepatan
penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam
laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
Ø Netralitas(neutrality):
informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu.
Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias
·
Keberdayaujian (verifiability)
Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat
diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan
konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji
berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi
keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan
konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu,
dan taksiran umur ekonomis.
·
Kenetralan (neutrality)
Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi
tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha
untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.
·
Kejujuran penyajian (representational
faithfulness)
Penyajian yang jujur berarti adanya kesesuaian
antara fakta dan informasi yang disampaikan.
Kualitas
Sekunder
Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi
akuntansi adalah keberdayabandingan (comparability) dan konsistensi
(consistency).
·
Keberdaya bandingan
Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat
dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu
industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama
untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan
ukuran tertentu.
·
Konsistensi
Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan
standar akuntansi apabila mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode
akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.
Kendala-kendala
Terdapat dua kendala yang mempengaruhi tercapainya
kualitas informasi seperti yang telah dijelaskan, yaitu pertimbangan
manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya yang kurang dominan
tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah praktek industri dan
konservatisme.
·
Pertimbangan manfaat-biaya
(cost-effectiveness)
Untuk menghasilkan informasi yang relevan,andal,
berdaya banding, dan konsisten dibutuhkan biaya yang mahal. Oleh karena biaya
dan terutama manfaat tidak mudah diukur, maka mempertimbangkan hubungan
manfaat-biaya menjadi masalah
·
Materialitas (materiality)
berhubungan
dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara
keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian
item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan
keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus
dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item material atau tidak.
·
Praktik industri
(industry practices) Sifat unik dari sejumlah
industri dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.
·
Konservatisme (conservatism)
berarti jika
ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil kemungkinannya dalam menghasilkan
penetapan laba dan aktiva yang terlalu tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika
diaplikasikan secara tepat adalah menyediakan pedoman yang paling rasional
dalam situasi sulit : jangan menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih
yang terlalu tinggi.
Elemen-elemen
Laporan Keuangan
SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen utama laporan
keuangan. Cakupannya bukan hanya perusahaan yang berorientasi laba, tetapi juga
organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan keuangan bagi organisasi yang
berorientasi laba meliputi 10 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas,
investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba komprehensif,
pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi organisasi nirlaba ada
7 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, dan
kerugian.
TINGKAT
KETIGA : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari
konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat
pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur
serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem
akuntansi.
Asumsi-Asumsi
Dasar
Asumsi-asumsi menyediakan satu landasan bagi profesi
akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan
oleh para akuntan agar akuntansi dapat dipraktikkan.
·
asumsi entitas ekonomi (economic entity
assumption)
Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit
yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan
(pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).
·
Kesinambungan (going concern)
Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada
asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang
panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan
bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang
·
Asumsi unit moneter ( monetary unit
assumption)
Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat
pengukur suatu obyek atau aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah
stabil dari waktu ke waktu.
·
Asumsi periodisitas (periodicity
assumption)
Cara yang
paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya
pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak
bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi
periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa
aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu
artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara
bulanan, kuartalan dan tahunan.
Prinsip-Prinsip
Dasar Akuntansi
·
Biaya historis (historical cost)
GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban
diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost) memiliki
keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya yaitu dapat
diandalkan.
·
Pengakuan pendapatan
Pendapatan
umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat direalisasikan dan (2)
telah dihasilkan.
·
Prinsip Penandingan (matching principle)
Beban untuk
suatu periode ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau
dengan periode tertentu.
·
Prinsip Pengungkapan Penuh (full
disclosure principle)
Mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan
dalam laporan keuangan mencerminkan trade off penilaian, seperti :
Ø Hal-hal
yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai
Ø Kebutuhan
untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.
Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan
untuk memperkuat atau memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama
laporan keuangan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar