Rabu, 06 November 2013

STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI KOTA PEKALONGAN



Bab II

 STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBANGAN USAHA KECIL           MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI KOTA PEKALONGAN
(penelitian ini dibiayai oleh kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan)
Victorianus Aries Siswanto

HASIL PENELITIAN
Gambaran Umum Obyek Penelitian
            Populasi unit usaha kecil menengah (UKM) dibidang tekstil utamanya untuk produksi batik dan tenun ATBM diwilayah kota pekalongan sudah mencapai 1150 buah. Sektor ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan daerah kota pekalongan, sebesar kurang lebih 45% dari total pendapatan per tahun. Sampai ini hasil produk tekstil UKM beruba kain batik, serta kain tenu ATBM masih sangat diminati dan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen diseluruh indonesia maupun luar negri.
            Dukungan dari pihak pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan potensi dibidang UKM sangat tinggi, ditinjau dari dukungan penyaluran kredit dari BUMN kepada UKM dari tahun 1994-2006 telah mencapai sekitar Rp.5 miliyar lebih. Juga ditinjau dari rencana Kerja Pemuda 2006 pada poin ke-9 yang terfokus pada Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha UKM.
Hasil Penelitian
            Didalam menjawab pertanyaan kuensioner, responden dapat menjawab pertanyaan lebih dari satu jawaban, sehingga total hasil olahan data ini tidak sama jumlahnya..
1.     Pemakaian Teknologi Informasi
Hasil penelitian tentang pemakaian teknologi informasi yang telah dijalankan oleh UKM di pekalongan terlihat 51 orang (39.84) telah menggunakan komputer, namuan hanya sebatas program pengolah kata dan data atau Ms Word dan Ms Excell. Sedangkan 20 orang (15.63%) telah menggunakan internet dalam menjalankan usahanya. Ada 14 orang (10.94%)yang telah menggunakan software (perangkat lunak) didalam menjalankan usahanya. Namun ada 30 orang (23.44%) yang belum menggunakan komputer sama sekali. Disini terlihat bahwa UKM di Pekalongan belum menggunakan komputer secara maksimal.
2.     Pemanfaatan Teknologi Informasi
Hasil penelitian tentang pemanfaatan teknologi informasi yang telah dijalankan oleh UKM di pekalongan terlihat 43 orang (32.58%) memanfaatkan alat bantu teknologi informasi untuk keperluan alat bantu administrasi , 21 orang (15.91%) telah memanfaatkan teknologi informasi untuk pengelolahan data, 28 orang (21.21%) memanfaatkan teknologi informasi untuk keperluan pemasaran, 13 orang (9.85) untuk keperluan lain dan 27 orang (20.45%) belum memakai teknologi informasi sama sekali atau manual.
3.     Peran Serta Perempuan dalam Pengembangan UKM
Hasil penelitian sebesar 55 orang (39.29%) permpuan yang menyatakan bahwa mereka berusaha untuk mengurangi pengguran yang ada di indonesia sebesar 56 orang (40%) mengubah nasib sebesar 21 orang (15%) dan lainya sebesar 8 orang (5.71%). Sebagian besar pengusaha perempuan masuk ke dunia wiraswasta untuk mengurangi pengangguran dan menggurangi beban keluarga.
4.     Kebutuhan Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan
Hasil penelitian peningkatan pengetahuan dan keterampilan, materi yang paling diminati pelaku usaha wanita adalah pemasaran dan bisnis yaitu 89 orang (67.42%), laporan keuangan yaitu sebanyak 26 orang (19.70%), laporan keuangan yang sebanyak 13 orang (9.85%), dan lainya sebanyak 4 orang (3.03%). Dalam hal ini terlihat pelaku usaha wanita ingin belajar banyak bagaimana memasarkan produk mereka agar berhasil dan bagaimana menjalankan bisnisnya.
PEMBAHASAN
            Teknologi informasi yang digunakan dalam pengembangan UKM, utamanya para wanita sebagai manajemenya, belum mendapatkan tempat yang memadai. Artinya, teknologi yang informasi yang digunakan masih terbatas pada pemenuhan kebutuhan administrasi dengan alat bantu yang bersifat mayoritas sebagai “pengganti mesin ketik”. Dengan kata lain teknologi informasi masih dimaknai sebagia alat bantu administratif harian (transactional processing). Padahal, teknologi informasi dan percepatanya sudah sangat luar biasa dan juga jika dioptimalkan akan meberikan daya dukung yang luar biasa dalam berbisnis. Hal ini mengisyaratkan bahwa UKM, utamanya para wanitanya masih sangat membutuhkan banyak informasi tentang peran serta teknologi informasi yang sesungguhnya dalam dunia bisnis secara praktis. Disisi lain, kemampuan dan keahlian para wanita dalam menggunakan teknologi informasi juga harus ditingkatkan.
Dalam sisi peran serta wanita dalam usaha kecil menengah, dapat diketahui bahwa etos kerja para wanita sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian dimana para wanita memiliki keinginan yang sangat besar untuk memberikan kontribusi dalam menyejahterakan keluarganya. Bahkan para wanita menghendaki adanya pengurangan pengangguran. Dalam hal ini mengisyaratkan bahwa para wanita tersebut memiliki kegigihan dalam usaha yang tinggi dan perlu diberikan arahan dan wawasan yang benar dan tepat tentang bagaimana mengelola bisnis secara moderen. Jika hal ini diberikan,  pera wanita tersebut dapat menjadi wirausahawati yang sangat tangguh.
Dari paparan diatas, beberapa hal yang dapat direkomendasikan demi peningkatan kualitas wanita wirahusawati dibidang UKM batik adalah sebagai berikut:
1.     Perlu diberikan pelatihan secara berkelanjutan dengan materi utama, mengelola bisnis secara moderen , memasarakan produk secara moderen, teknologi informasi dalam bisnis, pemanfaatan teknologi informasi secara praktis.
2.     Materi-materi tersebut harus dirancang dalam sebuah kurikulum yang berkelanjutan dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan
3.     Perlu dilakukan pendampingan setelah pemberian materi pelatihan perlu dilakukan evaluasi terhadap keterserapan materi dengan implementasi di lapangan.



SIMPULAN
            Dari penelitian diatas dapat diketahui beberapa hal tentang para wanita wirausahawati di bidang UKM batik kota Pekalongan sebagai berikut:
1.     Pemanfaatan teknologi informasi belum maksimal
2.     Keahlian di bidang teknologi informasi masih sangat minim
3.     Motivasi berwirausaha disebabkan oleh keinginan mengurangi beban keluarga dan pengangguran
4.     Berdasarkan hasil kuesioner dari responden, merek berkeinginan untuk belajar tentang pemasaran dan pengelolaan bisnis secara moderen, dimana kegiatan ini dapat dilanjutkan pada pengabdian masyarakat  demi kemajuan UKM yang dimimpin oleh wanita.
DAFTAR PUSTAKA
·        Anonim, (2000). Wanita dan Pria Di Indonesia 2000, Biro Statistika Kesejahteraan Rakyat, BPS, Jakarta.
·        Anonim, (1994). Usaha Bersaing Untuk Wanita dan Pemuda, ide Usaha Kecil dan Madya, Cakrawala Cinta, Jakarta.
·        B.S. Kusmuljono, (2007), Peran  Keuangan Mikro dalam Mendukung Produktivitas Ekonomi Wanita, makalah disampaikan pada Rakor Pelaksanaan Kebijakan Peningkatan Produktivitas Ekonomi Wanita di Jakarta tanggal 28 Maret 2007
·        Gunari Budhiretnowati dan rapma siahaan (2006), Menggerakan Denyut Nadi Koperasi Wanita dalam Menghadapi Era Globalisasi.
·        Jurnal Pengkajain Koperasi dan UKM (2006), Studi Peran Serta Wanita Dalam Pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi , Nomor 1 Tahun 1
·        Roosganda Eliabeth (2007), Pemberdayaan Wanita Mendukung Strategi Gender Mainstreaming dalam kebijakan Pembangunan Pertanian di Pedesaan, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor
·        Sri Lestari Harsosumarto (2007), Koperasi dan Pemberdayaan Perempuan, Kasubid Evaluasi dan Pelaporan serta Peneliti Muda Bidang Perkoperasian, Deputi Bidang Pengajian Sumberdaya UKMK.

Sumber : Google.com

STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI KOTA PEKALONGAN

BAB 1


STUDI PERAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DI KOTA PEKALONGAN
(penelitian ini dibiayai oleh kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan)
Victorianus Aries Siswanto
Abstrak:
Bidang teknologi informasi memberi prospek pada bangsa indonesia yang tengah dilanda krisis ekonomi. Untuk itu bisnis yang didukung oleh teknologi informasi perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifatnya yang strategis bagi bangsa indonesia. Jumlah wanita yang mendalami teknologi masih sangat sedikit, yang artinya hal ini menunjukan bahwa minat wanita dalam bidang teknologi masih minim. Disisi lain kemampuan dan keahlian para wanitadalam menggunakan teknologi informasi juga harus terus ditingkatkan. Metode penambahan wawasan dan informasi serta peningkatan kemampuan dan keahlian dapat dilakukan dengnan cara pelatihan, workshop dengan teknik yang praktis dan sederhana dalam penyampaianya.
Kata kunci : Teknologi informasi, pelatihan.
LATAR BELAKANG
            Krisis ekonomi di indonesia yang tak kunjung selesai membuat usaha-usaha besar gulung tikar dan membuat beban bagi bangsa dan negara mangkin berat karna usaha yang gulung tikar maka mangkin banyak pengangguran. Melihat penomena ini kiranya perlu usaha-usaha untuk mendukung daya pertumbuhanya. Pengindentifikasian masalah yang terjadi pada sektor usaha kecil perludilakukan pemantauan terus menerus agar mampu meningkatkan pertumbuhan dan daya saing.
            Dalam menghadapi era globalisasi, sebanyak 180 negara yang tergabung dalam Dewan Milenium, pada september 2000 dimarkas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyepakati suatu kerangka pembangunan global untuk perbaikan dan pencapaian kehidupan masyarakat dunia yang layak. Kerangka tersebut dituangkan dalam tujuan pembangunan millenium (Millenium Develoment Gols, MDGs). Isi dari MDGs indentik dengan pembukaan udang-undang dasar 1945 alinea ke-4. Salah satu tujuan MDGs adalah mengentasan kemiskinan dan kelaparan, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan wanita serta menjamin keberlangsungan lingkungan hidup (Kusmuljono,2007).
            Persoalan wanita adalah persoalan struktural dengan faktor penyebab dan kendala yang tidak tunggal antara lain adanya terbatasan wanita untuk meproleh pendidikan, memperoleh akses ekonomi, berorganisasi dan lainya masih tetap berlaku. Ketimpangan gender seluruh kehidupan merupakan kondisi utama yang menghantarkan wanita pada posisi yang terjepit.
            Keadaan sekarang yang banyak terjadi adalah suami yang harusnya sebagai kepala rumah tangga sudah banyak yang menjadi pengangguran tidak kentara, padahal kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak berjalan terus setiap harinya. Dengan keadaan ini lah para wanita yang semula sebagai ibu rumah tangga mulai berperan ganda melibatkan diri dalam berbagi usaha yang produktif .
            Bidang teknologi informasi memberi prosfek kepada bangsa indonesia yang tengah dilandaa krisis ekonomi. Industri ditandaia dengan pemogokan buruh, pemungutan liar dan gangguan fisik lainya. Untuk itu bisnis yang didukung oleh teknologi informasi perlu dapat perhatian yang khusus karna sifatnya yang strategis bagi bangsa indonesia. Pengusaha di indonesia sebagian besar dikuasai oleh kaum laki-laki, sebagaian bidang dikuasai wanita, namun masih ada kekurangan pada pengusaha wanita yaitu pemanfaatan teknologi, padahal teknologi informasi dalam era globalisasi ini telah menguasaia bidang dan memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai bidang usaha dewasa ini telah menggunakan keunggulan teknologi misalnya pada proses transaksi baik penjualan, pembelian atau pesanan yang semakin mudah dan cepat karena dukungan teknologi tersebut.
            Melihat berbagai situasi tersebut kajian peranan wanita dalam pengembangan usaha melalui teknologi informasi patut dibicarakan dalam upaya menyiasati pemulihan ekonomi di indonesia.



PERUMUSAN MASALAH
1.     Seberapah jauh wanita menggunakan teknologi informasi dalam pengembangan usaha kecil menengah.
2.     Seberapa jauh peran serta wanita dalam usaha kecil menengah.
3.     Bagaimana kemungkinan pengembangan kemampuan dan pesan serta mereka dalam pengembangan usaha kecil menengah.
TUJUAN PENELITIAN
      Tujuan penelitian ini adalah:
1.     Menganalisis peranan wanita dalam penggunaan teknologi informasi untuk mengembangkan usaha kecil menenga.
2.     Menganalisis kemampuan dan peranan serta wanita dalam pengembang
3.     Memperoleh alternatif peningkatan kemampuan dan peran serta wanita dalam pengembangan usaha kecil menengah.
TELAAH PUSTAKA
            Secara umum masih sedikit diantara kita yang menyadari bahwa perempuan menghadapi persoalan yang spesifikasi gender, yaitu persoalan yang hanya muncul karena seseorang atau kelompok orang adalah perempuan. Tidak saja dikalangan laki-laki, tapi kaum perempuan sendiri yang masih banyak tidak menyadari hal tersebut, sehingga memandang tidak perlu persoalan perempuan harus dibahas dan diperhatikan secara khusus. Hal ini terjadi karena mendalamnya penanaman nilai-nilai mengenai peran laki-laki dan perempuan, yang menganggap sudah kodratnya perempuan sebagai ratu rumah tangga, sebagai pengendalian urusan domstik saja atau dominan dimasyarakat kita, sehingga ada pikiran dan keinginan mengenai kesempatan beraktifitas diluar dominan rumah tangga dianggap sesuatau yang mengada-ada, sehingga tidak aneh muncul paradigma perempuan tidak harus sekolah tinggi toh akhirnya hanya akan mengurus sekitar kasur, sumur, dan dapur. (sri lestari,2007).
           
Menurut Cakrawala Cinta (Ide Usaha Kecil dan Madya, 1994), terdapat perbedaan penting yang menentukan jiwa kewiraswastaan, antara pria dan wanita sulit maju karena :
1.     Wanita kurang diajar bersaing, mereka tidak dikembangkan dengan semangat persaingan yang baik dalam dunia usaha. Sejak kehidupam kanak-kanak kurang terlibat, kurang terlatih dalam teamwork, misalnya dalam teamworksport.
2.     Wanita terlalu lihat detail pekara-pekara kecil, mereka terlalu berkepentingan atas hal-hal yang detail dari masalah, sehingga tidak terbiasa melihat kedudukan perpesktif keseluruhanya, karena terbiasa dengan hal-hal kecil.
3.     Wanita emosionil dalam situasi yang tidak tepat, sehingga banyak wanita menghabiskan waktumemikirkan “ apa kata orang nanti” ketika seharusnya dia berfikir secara profesional untuk menyelesaikan tugasnya. Secara berkepanjangan, sering emosional dan sentimetil apabila dikeritik tentang pekerjaan, sikap maupun penampilan.
4.     Wanita kurang berani mengambil resiko, berkaitan dengan sering memikirkan “ apa kata orang nanti “, wanita cenderung melakukan tugas-tugas secara aman dan average (rata-rata) kebiasaan.
5.     Wanita kurang cukup agresif, karena sifat agresif tidak searah dengan pendidikan yang diterima selama ini, sehingga tidak “berani” pengungkapan “tidak” atas pendapat dan sikap teman kerjanya yang diketahui salah.
6.     Mereka lebih sering bereaksi dari pada mengambil inisiatif, mereka terlalu rikuh untuk menonjolkan kelebihan pendapat dan kepemimpinanya dan lebih suka jujur yang telah ada.
7.     Wanita lebih berorientasi pada tugas dari pada tujuan dan sasaran, terkalahkan oleh kebiasaanya dalam pekerjaan rutin dan yang detail.
Dengan demikian wiraswasta/wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi teladan dalam bidang usah. Dengan kata lain wirausaha adalah orang-orang yang memiliki sifat/jiwa kewirausahaan/kewiraswastaan, yaitu berani mengambil resiko, keutamaan, kreatifitas, keteladanan dalam menangani usaha dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri. (Jurnal Pengkajian Koperasi dan UKM No 1 tahun 1 tahun, 2006)