Pengertian standarisasi adalah
keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna, yang dipakai
sebagai batas penerimaan minimal ( Clinical Practice
Guideline, 1990 ). Standart menunjukkan
pada tingkat ideal tercapai tersebut tidaklah disusun terlalu kaku, tetapi
masih dala batas-batas yang dibenarkan disebut dengan nama toleransi
Harmonisasi jauh lebih fleksibel dan terbuka, tidak
menggunakan pendekatan satu untuk semua, tetapi mengakomodasi beberapa
perbedaan. Harmonisasi merupakan proses untuk meningkatkan komparabilitas
(kesesuaian) praktik akuntansi dengan menentukan batasan-batasan seberapa besar
praktik tersebut dapat beragam. Standar harmonisasi bebas dari konflik logika
dan dapat meningkatkan daya banding informasi keuangan yang berasal dari
berbagai negara. Secara sederhana harmonisasi dapat diartikan bahwa suatu
negara tidak mengikuti sepenuhnya standar yang berlaku secara internasional.
Negara tersebut hanya membuat standar akuntansi yang mereka miliki tidak
bertentangan dengan standar akuntansi internasional. Menurut Media Akuntansi
Desember 2005, Harmonisasi akuntansi dimaksudkan agar standar akuntansi yang
dikeluarkan oleh badan penyusun standar di setiap negara selaras denga IAS
(International Accounting Standards) yang ditetapkan oleh IASC. Tidak perlu
sama pengaturannya secara teknis, asalkan tidak saling bertentangan maka
standar 4 akuntansi nasional dikatakan harmonis denga IAS. Pada tahun
1980-1990an, harmonisasi adalah kata yang sering disebut, namun pada tahun
1990-saat ini, di kalangan profesi akuntan di dunia menggunakan istilah
konvergensi. Konvergen/Convergen menurut IASB adalah “the same word by word in
English”.
Upaya untuk melakukan harmonisasi standar akuntansi
telah dimulai jauh sebelum pembentukan
Komite Standar Akuntansi Internasional pada tahun 1973. Baru-baru ini sejumlah
perusahaan yang berusaha memperoleh modal di luar negara asal dan para investor
yang berusaha melakukan diversifikasi investasi secara internasional menghadapi
masalah yang makin meningkat sebagai akibat perbedaan nasional dalam hal
akuntansi, pengungkapan dan audit. Harmonisasi akuntansi mencakup:
·
Standar akuntansi (yang berkaitan dengan
pengukuran dan pengungkapannya).
·
Pengungkapan yang dibuat oleh
perusahaan-perusahaan publik terkait dengan penawaran surat berharga dan
pencatatan pada bursa efek.
·
Standar audit
Adapun manfaat harmonisasi internasional adalah :
·
Secara umum semua laporan keuangan
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa induk, karena bahasa Inggris
digunakan di seluruh dunia.
·
Kalangan usaha akan mengalami manfaat
yang cukup besar dalam perencanaan biaya, biaya sistem dan pelatihan.
Kerugian yang diperoleh dengan adanya harmonisasi
adalah : perpajakan dan jaminan sosial berpengaruh terhadap efisiensi nasional.
Persetujuan akan sistem perpajakan akan menjadi pendirian seperti sistem kartel
dan akan menghilangkan manfaat yang akan diperoleh dalam persaiangan antar
negara. Selanjutnya, bagaimana dengan GAAP global yang terharmonisasi? Tentu
saja mempunyai manfaat antara lain :
·
Pasar modal menjadi global dan modal
investasi dapat bergerak di seluruh dunia tanpa hambatan berarti. Standar
pelaporan keuangan yang berkualitas tinggi yang digunakan secara konsisten di
seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi alokasi modal.
·
Investor dapat membuat keputusan investasi
yang lebih baik, portofolio akan lebih beragam dan resiko keuangan berkurang.
·
Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki
proses pengambilan keputusan strategi dalam bidang merger dan akuisisi.
·
Gagasan terbaik yang timbul dari
aktivitas pembuatan standar dapat disebarkan dan mengembangkan standar global
yang berkualitas tinggi.
Beberapa pihak mengatakan bahwa penentuan standar
internasional merupakan solusi yang terlalu sederhana atas masalah yang rumit.
Hal ini juga dikatakan merupakan sebuah taktik KAP-KAP besar yang menyediakan
jasa akuntansi internasional untuk memperluas pasarnya. Adopsi standar
internasional akan menimbulkan standar yang berlebihan dan dampaknya,
perusahaan harus merespon tekanan nasional, politik, sosial dan ekonomi yang
semakin meningkat dan semakin dibuat untuk memenuhi ketentuan internasional
yang rumit dan berbiaya besar. Pendapat lain mengatakan, pasar modal
internasional telah berkembang baik tanpa adanya GAAP global. Harmonisasi
prinsip akuntansi internasional tampaknya tidak akan terwujud, tidak ada pihak
dominan, tidak ada badan berwenang yang memiliki kemampuan menetapkan adopsi
GAAP global.
IASB (International Accounting Standards Board) yang
sebelumnya disebut IASC, menginginkan agar standar akuntansi seluruh anggotanya
konvergen dengan IFRS. Alasan IASB memilih penerapan konvergensi bukan
harmonisasi adalah, karena pengaturan yang konvergen akan meningkatkan daya
banding laporan keuangan seluruh dunia serta tidak ada permasalahan time lags.
Konvergensi standar akuntansi merupakan istilah umum
dalam IASB. Konvergensi standar akuntansi internasional dan nasional mencakup
penghapusan perbedaan secara bertahap yang mencari solusi terbaik atas
masalah-masalah akuntansi dan pelaporan. Apabila telah diterapkan konvergensi,
maka tidka ada lagi perbedaan-perbedaan akuntansi.Konvergensi IFRS 2012 IAI
menyatakan bahwa Indonesia akan menerapkan program konvergensi IFRS atau
Indonesian GAAP yang akan dikonvergensikan secara penuh pada tanggal 1 Januari
2012. Menurut Jurnal Akuntan Indonesia (Juni, 2009):
·
PSAK 50 (revisi 2006) dan PSAK 55
(revisi 2006) yang semula berlaku efektif untuk periode pada satau setelah 1
Januari 2009 diubah menjadi 1 Januari 2010.
·
PSAK 50 mengacu pada IAS 32 (revisi 2005),
mengenai Instrumen keuangan: penyajian dan pengungkapan.
·
PSAK 55 mengacu pada IAS 39 (revisi
2005), mengenai Instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran.
Menurut jurnal IAI 2009, banyak pihak yeng meragukan
karena PSAK 50 dan 55 yang ditetapkan tahun 2006, implementasinya masih diundur
hingga 2010. Namun sebagai perbandingan, IFRS setebal 2000-an halaman, 600-an
halaman diantaranya membahas IAS 32 dan 39. Artinya materi IAS 32 dan 39 (PSAK
50 dan 55) tidaklah sederhana. IAI tetap berpegang pada keputusannya yaitu
melakukan konvergensi IFRS. Konvergensi standar akuntansi dapat dilakukan
dengan 3 cara yaitu: harmonisasi (membuat standar sendiri yang tidak berkonflik
dengan IFRS), adaptasi (membuat standar sendiri yang disesuaikan dengan IFRS),
atau adopsi (mengambil langsung dari IFRS). Apabila adopsi penuh IFRS
dilakukan, maka laporan keuangan berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi
signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Manfaat Adopsi penuh IFRS:
·
Memudahkan pemahaman atas laporan
keuangan dengan menggunakan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang dikenal
secara internasional.
·
Meningkatkan arus investasi global
melalui transparansi.
·
Menurunkan biaya modal dengan membuka
peluang fund raising melalui pasar modal global.
·
Menciptakan efisiensi laporan keuangan.
Strategi adopsi ada dua cara, yaitu:
·
Big Bang Strategy, adopsi penuh
dilakukan sekaligus tanpa masa transisi (strategi ini biasanya digunakan oleh
negara-negara maju dan sebagian kecil negara berkembang seperti : Afrika
Selatan).
·
Gradual Strategy, adopsi secara
bertahap, dengan masa transisi.
Adapun arah pengembangan PSAK:
·
Untuk PSAK yang sama dengan IFRS, maka
dilakukan revisi PSAK dan /atau diterbitkan PSAK yang baru.
·
Untuk PSAK industry khusus, maka
dihilangkan dan /atau diterbitkan pedoman Akuntansi.
·
Untuk PSAK derivasi UU, maka
dipertahankan.
·
Untuk PSAK yang belum/tidak diatur dalam
IFRS, amaka dikembangkan
Proses Konvergensi PSAK dengan IFRS akan berdampak
pula terhadap pendidikan yaitu:
·
Perubahan mind stream dan rule –based
kepada principle based.
·
Banyak menggunakan professional judgment
:pemahaman substansi dan prinsip yang diatur serta integritas.
·
Banyak menggunakan fair value accounting
:perubahan dari income statement approach ke balance sheet approach.
·
IFRS selalu berubah dan konsep yang
digunakan dalam suatu IFRS dapat berbeda dengan IFRS lain, misalnya lease
menggunakan risk and rewardconcept dan pemutakhiran IFRS merupakan suatu
keharusan.
·
Perubahan textbook dari US GAAP kepada
IFRS.
Bagaimana halnya dengan Indonesia? Cara mana yang
ditempuh dalam melakukan konvergensi? Indonesia memilih untuk melakukan adopsi.
Namun bukan adopsi penuh, mengingat adanya perbedaan sifat bisnis dan regulasi
di Indonesia. Oleh karena itu, saat ini Standar Akuntansi Keuangan milik Indonesia
sebagian besar sudah sama dengan IFRS. Indonesia melakukan konvergensi IFRS ini
karena Indonesia sudah memiliki komitmen dalam kesepakatan dengan negara-negara
G-20. Tujuan kesepakatan tersebut adalah untuk meningkatkan transparansi dan
akuntabilitas dalam pelaporan keuangan. Selain itu, konvergensi IFRS akan
meningkatkan arus investasi global melalui keterbandingan laporan keuangan
(saat ini sekitar 120 negara sudah berkomitmen untuk melakukan konvergensi
IFRS). Konvergensi IFRS seharusnya dicapai Indonesia pada tahun 2008, namun
karena beberapa hal, DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) berkomitmen bahwa
konvergensi akan dicapai pada 1 Januari 2012. Kegagalan Indonesia untuk
mencapai konvergensi pada tahun 2008 ini harus dibayar dengan masih tingginya
tingkat suku bunga kredit untuk Indonesia yang ditetapkan oleh World Bank. Hal
ini dikarenakan World Bank menganggap investasi Indonesia masih beresiko karena
penyajian laporan keuangan masih menggunakan Standar Akuntansi buatan Indonesia
(belum IFRS).
Di dunia internasional, IFRS telah diadopsi oleh
banyak negara, termasuk negara-negara Uni Eropa, Afrika, Asia, Amerika Latin
dan Australia. Di kawasan Asia, Hongkong, Filipina dan Singapura pun telah
mengadopsinya. Sejak 2008, diperkirakan ada sekitar 80 negara mengharuskan
perusahaan yang telah terdaftar dalam bursa efek global menerapkan IFRS dalam
mempersiapkan dan mempresentasikan laporan keuangan. Dalam konteks Indonesia,
meskipun banyak pro dan kontra Konvergensi IFRS dengan PSAK (Pedoman Standar
Akuntansi Keuangan) merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin dayasaing
nasional. Perubahan tatacara pelaporan keuangan dari GAAP, PSAK atau lainnya ke
IFRS berdampak sangat luas. IFRS akan menjadi kompetensi wajib baru bagi
akuntan publik, penilai (appraiser), akuntan manajemen, regulator dan akuntan
pendidik. Mampukah para pekerja accounting menghadapi perubahan yang secara
terus-menerus akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar global terhadap
informasi keuangan? Bagaimana persiapan Indonesia menyambut IFRS ini? Sejak
tahun 2004, profesi akuntan di Indonesia telah melakukan harmonisasi antara
PSAK/Indonesian GAAP dan IFRS. Konvergensi IFRS diharapkan tercapai pada 2012.
Walaupun IFRS masih belum diterapkan secara penuh saat ini, persiapan dan
kesiapan untuk menyambutnya akan memberikan daya saing tersendiri untuk entitas
bisnis di Indonesia. Tentunya implementasi IFRS ini akan membutuhkan biaya yang
sangat besar, energi dan waktu yang tidak ringan, tetapi biaya untuk tidak
mengadopsinya akan jauh lebih signifikan. Komitmen manajemen perusahaan
Indonesia untuk mengadopsi IFRS merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan daya
saing perusahaan Indonesia di masa depan.
sumber:
http://stikstarakanita.ac.id/files/Tarakanita%20News%20No.%202/Opini/39%20Standarisasi,%20harmonisasi%20dan%20konvergensi%20IFRS.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar